Aborsi dan Menstrual Regulation : Makalah Jurusan PAI



Islam adalah agama yang suci, yang dibawa oleh nabi Muhammad saw sebagai rahmat untuk semesta alam. “Maka demi Tuhanmu, mereka pada hakikatnya tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) sebagai pemutus perkara yang mereka perselisihkan di antara mereka.” (TQS An Nisaa` 65) “Dan tidak patut bagi seorang mu`min laki-laki dan mu`min perempuan, jika Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.” (TQS Al Ahzab 36)
Blog, Updated at: 09.32

Sumber Hukum Dalam Aswaja | dzakypotensi.blogspot.com


Di dalam menentukan hukum fiqih, madzhab Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) bersumber kepada empat pokok; Al-Qur’an, Hadits/as-Sunnah, Ijma’ dan Qiyas. Secara singkat, paparannya sebagai berikut:


1.      Al-Qur’an
Al-Qur’an merupakan sumber utama dan pertama dalam pengambilan hukum. Karena Al-Qur’an adalah perkataan Allah yang merupakan petunjuk kepada ummat manusia dan diwajibkan untuk berpegangan kepada Al-Qur’an[1]. Allah berfirman dalam surat al-Baqarah ayat 2; Al-Maidah Ayat 44-45, 47 :
Blog, Updated at: 09.28

Sosialisme Sisi Yang Bersesuaian Dan Yang Bertentangan Dengan Islam | Makalah Jurusan PAI


Proses sosialisasi dapat diartikan sebagai proses belajar seorang anggota masyarakat untuk mengenal dan menghayati norma-norma serta nilai-nilai masyarakat tempat ia menjadi anggota sehingga terjadi pembentukan sikap untuk berprilaku sesuai dengan tuntutan atau prilaku masyarakatnya.

Proses pembelajaran berlangsung secara bertahap, perlahan tapi pasti dan berkesinambungan.

Blog, Updated at: 09.16

Perbedaan Ahmadiyah Bahaiyah dan Najariyah | dzakypotensi.blogspot.com


Berikut adalah sedikit informasi mengenai Baha’i, aliran sesat sempalan Syi’ah. Tulisan ini kami ambil dari buku “Aliran dan Paham Sesat di Indonesia” yang disusun oleh Ustadz Hartono Ahmad Jaiz dan diterbitkan oleh Pustaka al-Kautsar (ISBN: 979-592-187-8).
Blog, Updated at: 11.57

Pancasila Sebagai Sistem Filsafat | Makalah dan Materi Pendidikan



Merupakan bidang ilmu yang rumit, kompleks dan sulit dipahami secara definitif. Namun demikian sebenarnya pendapat yang demikian ini tidak selamanya benar. Jikalau seseorang berpandangan bahwa kebenaran pengetahuan itu sumbernya rasio maka orang tersebut berfilsafat rasionalisme,
Blog, Updated at: 22.05

Motivasi Belajar Untuk Pendidikan Agama Islam

A.     Motivasi Belajar
Motivasi merupakan sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan manusia yang erat kaitannya dengan perilaku manusia, oleh karena itu dalam melaksanakan aktivitas perlu disertai dengan motivasi.
1.       Pengertian Motivasi Belajar
Kata motivasi berasal dari bahasa Inggris “motivation” dan merupakan bentuk dari kata “motive” yang berarti “alasan atau yang menggerakkan”.[1]
Adapun secara terminologi, motivasi merupakan suatu tenaga, dorongan, alasan, kemauan dari dalam yang menyebabkan kita bertindak, di mana tindakan itu diarahkan kepada tujuan tertentu yang hendak dicapai.[2]
Clifford T. Morgan dalam buku Introduction to Psychology dikatakan, “Motivation is a general term, it refers to states within the organism, to behavior and to the goals toward which behavior is directed”.[3] Motivasi adalah istilah umum yang menunjukkan pada suatu keadaan, dalam suatu organisme untuk berbuat dan menuju suatu tujuan dimana suatu tingkah laku itu diarahkan.
Menurut Mc. Donald sebagaimana dikutip oleh Wasty Soemanto, bahwa motivasi adalah suatu perubahan tenaga dalam pribadi seseorang yang ditandai oleh dorongan efektif dan reaksi dalam usaha mencapai tujuan.[4]
Dari beberapa pendapat di atas, maka dapat dirumuskan bahwa motivasi adalah sesuatu daya yang menjadi pendorong seseorang bertindak, di mana rumusan motivasi menjadi sebuah kebutuhan nyata dan merupakan muara dari sebuah tindakan.[5]
Sedangkan pengertian belajar menurut para ahli, di antaranya adalah:
Oemar Hamalik mendefinisikan belajar adalah suatu bentuk pertumbuhan atau perolehan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara-cara bertingkah laku yang baru berkat pengalaman dan latihan.[6]
Arno F. Wittig dalam buku Psychology of Learning dikatakan, “Learning can be defined as any relatively permanent change in a organism behavioral repertoire that occurs as a result of experience”.[7] Belajar menurut Arno dapat didefinisikan sebagai suatu perbuatan yang relatif permanen dalam suatu tingkah laku manusia yang muncul sebagai hasil pengalaman.
Menurut Shaleh Abdul Aziz dan Abdul Aziz Abdul Majid dalam kitab at-Tarbiyah wa Thuruqut Tadris, mendefinisikan belajar adalah:
اِنَّ التَّعَلَّمُ هُوَ تَغْيِيْرُ فِى ذِهْنِ الْمُتَعَلَّمِ يَطْرَأُ عَلَى خَيْرَةٍ سَابِقَةٍ فَيُحْدِثُ فِيْهَا تَغْيِيْرًا جَدِيْدًا. [8]
Belajar adalah perubahan tingkah laku pada hati (jiwa) si pelajar berdasarkan pengetahuan yang sudah dimiliki menuju perubahan baru.

Jadi, secara psikologis bahwa belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku seseorang sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.[9]
Dari beberapa definisi di atas maka dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang dapat menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan kegiatan belajar dan yang menimbulkan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh siswa dapat tercapai.
2.      Aspek-aspek Motivasi
Menurut pendapat Clifford T. Morgan, yang dikutip oleh Wasty Soemanto, menjelaskan motivasi bertalian dengan tiga hal yang sekaligus merupakan aspek-aspek dari motivasi. Ketiga hal tersebut adalah:
1)     Keadaan yang mendorong tingkah laku (motivating states);
2)     Tingkah laku yang didorong oleh keadaan tersebut (motivated behavior);
3)     Dan tujuan dari pada tingkah laku tersebut (goals or ends of such behavior).[10]
Menurut Mc. Donald sebagaimana dikutip oleh Akyas Azhari, merumuskan dalam definisi motivasi terdapat tiga unsur yang saling berkaitan, yaitu:
1)     Bahwa motivasi itu dimulai dengan suatu perubahan tenaga dalam diri seseorang, keadaan ini biasa disebut dengan kebutuhan. Kebutuhan yang merupakan unsur pertama dari motivasi, timbul dari dalam diri siswa akibat merasakan adanya kekurangan dalam dirinya. Dengan kata lain, kekurangan biasanya timbul apabila merasa ada ketidakseimbangan antara apa yang dirasakan dengan apa yang dimiliki.
2)     Motivasi ditandai oleh dorongan afektif. Mula-mula merupakan ketegangan psikologis, lalu merupakan suasana emosi yang ditimbulkan adanya ketidakseimbangan dalam diri. Suasana emosi ini menimbulkan kelakuan yang berupa motif (dorongan), sehingga upaya untuk mengatasi dan menghilangkan ketidakseimbangan tersebut, atau timbul usaha untuk memenuhi kebutuhan. Dengan demikian, afeksi atau dorongan itu merupakan unsur kedua dari motivasi menunjuk pada tindakan/usaha secara terarah.
3)     Motivasi ditandai oleh reaksi-reaksi mencapai tujuan pribadi yang termotivasi mengadakan respon-respon yang tertuju ke arah suatu tujuan. Tujuan adalah segala sesuatu yang menghilangkan kebutuhan dan mengurangi dorongan. Artinya tercapai tujuan dapat menghilangkan ketidakseimbangan dan menghentikan atau mengurangi tindakan yang dilakukan karena tercapainya tujuan, berarti pula telah terpenuhinya kebutuhan.[11]
Dari ketiga unsur di atas, motivasi mengandung dua komponen, yaitu komponen dalam (inner component), dan komponen luar (outer component). Komponen dalam ialah perubahan yang terjadi di dalam diri seseorang, berupa keadaan tidak puas, atau ketegangan psikologis. Komponen luar ialah apa yang diinginkan seseorang, tujuan yang ingin dicapai oleh seseorang. Jadi, komponen dalam ialah kebutuhan-kebutuhan yang ingin dipuaskan, sedangkan komponen luar ialah tujuan yang hendak dicapai untuk memenuhi kebutuhan tersebut.[12]
Dari penjelasan tersebut dapat dimengerti, bahwa motivasi seseorang (siswa) dalam melakukan sesuatu (belajar) karena adanya tiga unsur, yaitu kebutuhan, dorongan dan tujuan yang pasti ada dalam motivasi siswa dalam belajar.
3.       Macam-macam Motivasi Belajar
Berbicara masalah macam-macam motivasi dapat dilihat dari berbagai sudut pandang. Namun pada prinsipnya dilihat dari segi muncul atau timbul dan berkembangnya motivasi dalam diri seseorang terdapat dua macam, yaitu:
1)     Motivasi intrinsik
Pada intinya, motivasi intrinsik merupakan kondisi dari dalam diri seseorang (siswa) yang mendorong, menggerakkan atau membangkitkan siswa untuk melakukan sesuatu, yaitu belajar.
Para ahli mendefinisikan motivasi intrinsik, sebagai berikut:
a)     Menurut Ivor K. Davies, motivasi intrinsik mengacu pada faktor-faktor dari dalam, tersirat baik dalam tugas itu sendiri maupun pada diri siswa.[13]
b)     Menurut Sumadi Suryabrata, motivasi intrinsik yaitu motivasi yang aktif atau berfungsi tidak perlu ada rangsangan dari luar.[14]
c)      Menurut Soetomo, motivasi intrinsik ialah dorongan untuk melakukan suatu tindakan yang mana tujuan yang akan dicapai berada dalam dirinya sendiri.[15]
d)     Menurut Ahmad Rohani dan Abu Ahmadi, motivasi intrinsik yaitu motivasi yang timbul dalam diri seseorang. Maksudnya siswa belajar, karena belajar itu sendiri dipandang bermakna (dapat bermanfaat) bagi dirinya.[16]
Selanjutnya Sardiman AM memandang ada dua hal yang terkandung dalam motivasi intrinsik, seperti:
a)     Mengetahui apa saja yang akan dipelajari, dan
b)     Memahami mengapa hal tersebut patut dipelajari.
Seseorang siswa yang sedang belajar tanpa memahami kedua hal tersebut kegiatan belajarnya akan sulit berhasil. Artinya, tidak akan memperoleh manfaat dari kegiatan belajar yang mereka ikuti dari guru. Secara lebih lanjut memahami kedua hal tersebut berarti pula memahami tujuan belajar. Jadi, motivasi intrinsik adalah keadaan dalam diri siswa yang mendorong, menggerakkan, dan membangkitkan siswa untuk belajar.
4.  Motivasi ekstrinsik
Motivasi belajar seorang siswa tidaklah mesti datang dari dalam dirinya bersifat intrinsik, tetapi ada kalanya semangat belajar siswa ditimbulkan oleh dorongan yang muncul dari luar dirinya yang biasa disebut dengan motivasi ekstrinsik.
Di antara definisi motivasi ekstrinsik yang sudah lazim adalah:
a)     Menurut Nasution, mengemukakan pendapatnya tentang motivasi ekstrinsik bahwa tujuan-tujuan itu terletak di luar perbuatan itu, yakni tidak terkandung di dalam perbuatan itu sendiri.[17]
b)     Menurut Ivor K. Davies, berpendapat bahwa motivasi ekstrinsik itu mengacu pada faktor-faktor dari luar.[18]
c)      Menurut Soetomo, motivasi ekstrinsik ialah dorongan yang datang dari luar diri individu.[19]
Berdasarkan dari ketiga pendapat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa motivasi ekstrinsik dapat didefinisikan sebagai segala hal dan keadaan yang datang dari luar diri seseorang (siswa) yang dapat menggerakkan dan mendorong semangat dan keinginannya untuk selalu rajin mengikuti pelajaran. Dalam interaksi belajar mengajar, diharapkan guru selalu mengusahakan timbulnya motivasi pada diri anak, dengan berbagai cara antara lain:
a)     Menciptakan suasana belajar yang positif
b)     Menciptakan keberhasilan belajar
c)      Memberi contoh yang baik dan sesuai dengan perkembangan anak
d)     Memberikan hasil-hasil yang dicapai siswa
e)     Memberi penghargaan atas prestasi yang dicapai siswa.[20]
d.      Fungsi Motivasi Belajar
Secara umum dapat dikatakan bahwa fungsi motivasi adalah mendorong, menggerakkan/menggugah seseorang agar timbul keinginan dan kemauan untuk melakukan sesuatu sehingga dapat memperoleh hasil atau mencapai tujuan tertentu yang ingin dicapai.[21] Setiap kegiatan belajar mengajar sangat diperlukan adanya motivasi. Hasil belajar akan menjadi optimal, jika ada motivasi. Makin tepat motivasi yang diberikan, akan berhasil pula pelajaran yang diberikan. Jadi, motivasi akan senantiasa menentukan intensitas belajar bagi para siswa.[22]
Perlu ditegaskan, bahwa setiap tindakan motivasi mempunyai tujuan atau bertalian dengan tujuan, makin jelas tujuan yang ingin dicapai, semakin jelas pula bagaimana tindakan memotivasi (tindakan mencapai tujuan dilakukan). Dengan demikian, motivasi itu mempengaruhi adanya kegiatan atau tindakan.[23]
Keberhasilan suatu usaha dalam mencapai tujuan, sangatlah ditentukan oleh kuat atau lemahnya motivasi. Prestasi yang baik akan sulit di dapat tanpa adanya usaha untuk mengatasi permasalahan atau kesulitan. Proses usaha dalam menyelesaikan kesulitan tersebut memberikan dorongan yang sungguh kuat. Dalam Islam secara jelas menerangkan bahwa motivasi dalam usaha untuk mengatasi kesulitan sangatlah berhubungan erat dengan keberhasilan seseorang. Sebagaimana firman Allah dalam surat ar-Ra’d : 11
... إِنَّ اللهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ .... (الرعد: 11)
“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”. (QS. Ar-Ra’d : 11)[24]

Dari ayat di atas, bisa diketahui bahwa motivasi memiliki fungsi yang sangat besar dalam mencapai tujuan, yaitu mencapai cita-cita, keberhasilan atau adanya perubahan dalam diri seseorang.
Sehubungan dengan hal tersebut ada tiga fungsi motivasi:
1)     Mendorong manusia untuk berbuat, jadi sebagai motor atau penggerak yang melepaskan energi. Motivasi dalam hal ini merupakan motor penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan.
2)     Menentukan arah perbuatan, yakni ke arah yang hendak dicapai. Dengan demikian motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuannya.
3)     Menyeleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa saja yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan, dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut. Seorang siswa yang ingin pandai, tentu akan melakukan kegiatan belajar dan tidak akan menghabiskan waktunya untuk bermain atau membaca komik, sebab tidak serasi dengan tujuan.[25]
Di samping itu ada juga fungsi-fungsi lain. Motivasi dapat berfungsi sebagai pendorong usaha dan pencapaian prestasi. Seseorang (siswa) melakukan usaha (belajar) karena adanya motivasi, adanya motivasi yang baik dalam belajar akan menunjukkan hasil yang baik pula.
Dengan kata lain bahwa, jika proses interaksi belajar mengajar tercipta dengan baik, maka siswa juga akan terdorong untuk melakukan kegiatan belajarnya.
B.     Konsep Pendidikan Agama Islam
Pendidikan Agama Islam adalah usaha berupa bimbingan dan asuhan terhadap anak didik agar kelak setelah selesai pendidikannya dapat memahami dan mengamalkan ajaran agama Islam serta menjadikannya sebagai pandangan hidup (way of life).[26]
Sedangkan Pendidikan Agama Islam berdasarkan Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional adalah salah satu bidang studi pendidikan yang bersama-sama dengan pendidikan kewarganegaraan dan bahasa yang menjadi kurikulum wajib di setiap jenis, jalur, dan jenjang pendidikan (Pasal 37 ayat 1).[27]
Jadi Pendidikan Agama Islam merupakan usaha sadar yang dilakukan pendidikan dalam rangka mempersiapkan peserta didik untuk menyakini, memahami dan mengamalkan agama Islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, atau pelatihan yang telah ditentukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Di sekolah umum, Pendidikan Agama Islam merupakan satu bidang studi atau unsur pokok keimanan, ibadah, al-Qur’an, akhlak, muamalah, syari’ah dan tarikh dengan satu silabi. Sedangkan di sekolah berciri khas agama Islam, Pendidikan Agama Islam merupakan satu kelompok bidang studi terdiri dari al-Qur’an Hadits, Fiqih, Akidah Akhlak, Sejarah Kebudayaan Islam, dan Bahasa Arab yang masing-masing bidang studi memiliki silabi tersendiri.
Sedangkan tujuan umum Pendidikan Agama Islam adalah meningkatkan keimanan, pemahaman, penghayatan dan pengamalan peserta didik tentang agama Islam, sehingga menjadi manusia muslim yang beriman dan bertakwa kepada Allah, berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.[28]
Tujuan Pendidikan Agama Islam harus sesuai dengan tujuan hidup manusia, seperti yang disebutkan dalam al-Qur’an sebagai berikut:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ (الذاريات: 56)
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (QS. Adz-Dzariyat: 56)[29]

Jadi, tujuan Pendidikan Agama Islam harus mengacu pada penanaman nilai-nilai Islam. Hal ini dilakukan dalam rangka menuai keberhasilan hidup di dunia bagi peserta yang kemudian akan membuahkan kebaikan di akhirat.
Berdasarkan uraian di atas, dapat diketahui bahwa yang dimaksud dengan motivasi belajar Pendidikan Agama Islam adalah gejala psikologis dari dalam jiwa dalam bentuk dorongan pertumbuhan dan perubahan diri seseorang dalam tingkah laku baru berkat pengalaman dan latihan untuk mencapai tujuan yang dikehendaki serta mendapat kepuasan pada pelajaran Pendidikan Agama Islam.

Sumber Artikel By : Makalah Ibnu


[1][1] John M. Echols dan Hasan Shadily, Kamus Inggris Indonesia, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2000), cet. XXIV, hlm. 386.
[2][2] Sumadi Suryobroto, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004), cet. XII, hlm. 70.
[3][3] Clifford T. Morgan, Introduction to Psychology, (New York: Mc. Grow Hill Company, 1961), hlm. 187
[4][4] Wasty Soemanto, Psikologi Pendidikan,  (Jakarta: Rineka Cipta, 1990), hlm. 191.
[5][5] Akyas Azhari, Psikologi Umum dan Perkembangan, (Jakarta: Teraju, 2004), cet. 1, hlm. 65.
[6][6] Oemar Hamalik, Metode Belajar dan  Kesulitan-kesulitan Belajar, (Bandung: Tarsito,  1990), hlm. 21
[7][7] Arno F. Witting, Psychology of Learning, (New York: Mc. Hill Book Company, 1981), hlm. 2
[8][8] Shaleh Abdul Aziz dan Abdul Aziz Abdul Majid, At-Tarbiyah wa Thuruqut Tadris,  Juz I, (Mesir: Darul Ma’arif, t.th.), hlm. 169.
[9][9] Slameto, Proses Belajar Mengajar dalam Sistem Kredit Semester (SKS), (Jakarta: Bumi Aksara, 1991), cet. 1, hlm. 78.
[10][10] Wasty Soemanto, op. cit., hlm. 194.
[11][11] Akyas Azhari, op. cit., hlm. 66-67.
[12][12] Wasty Soemanto, op. cit., hlm. 195.
[13][13] Ivor K. Davies, Pengelolaan Belajar, (Jakarta: Rajawali, 1991), cet. 11, hlm. 216.
[14][14] Sumadi Suryobroto, op. cit., hlm. 99.
[15][15] Soetomo, Dasar-dasar Interaksi Belajar Mengajar, (Surabaya: Usaha Nasional, 1993), cet. 1, hlm. 34.
[16][16] Ahmad Rohani dan Abu Ahmadi, Pengelolaan Pengajaran, (Jakarta: Rineka Cipta, 1991), cet. 1, hlm. 12-13.
[17][17] S. Nasution, Didaktik Asas-asas Mengajar, (Jakarta: Bumi Aksara, 2002), eds. 2, hlm. 80.
[18][18] Ivor K. Davies, loc. cit.
[19][19] Soetomo, loc. cit.
[20][20] Ibid., hlm. 34.
[21][21] M. Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2003), hlm. 73.
[22][22] Sardiman A.M., op. cit., hlm. 82-83.
[23][23] M. Ngalim Purwanto, op. cit., hlm. 73-74.
[24][24] Departemen Agama RI, op. cit., hlm. 370.
[25][25] Sardiman A.M., Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2001), cet. IX, hlm. 83.
[26][26] Zakiah Darajat, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1996), hlm. 86.
[27][27] UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, (Bandung: Citra Umbara, 2003), hlm. 25.
[28][28] Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam: Upaya Mengefektifkan PAI di Sekolah, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002), hlm. 77.
[29][29] Departemen Agama RI, op. cit., hlm. 862.
Blog, Updated at: 12.55

Beberapa Fungsi dan Prinsip Manajemen Pendidikan

Manajemen sebagai suatu proses sosial, meletakkan bobotnya pada interaksi orang-orang, baik orang-orang yang berada di dalam maupun di luar lembaga-lembaga formal,
atau yang berada di atas maupun di bawah posisi operasional seseorang. Selain itu juga manajemen pendidikan merupakan alternatif strategis untuk meningkatkan kualitas pendidikan.
Peningkatan kualitas pendidikan bukanlah tugas yang ringan, karena tidak hanya berkaitan dengan permasalahan teknis, tetapi mencakup berbagai persoalan yang rumit dan kompleks, sehingga menuntut manajemen pendidikan yang lebih baik. Sayangnya, selama ini aspek manajemen pendidikan pada berbagai tingkat dan satuan pendidikan belum mendapat perhatian yang serius, sehingga seluruh komponen sistem pendidikan kurang berfungsi dengan baik. Lemahnya manajemen pendidikan juga memberikan dampak terhadap efisiensi internal pendidikan yang terlihat dari jumlah peserta didik yang mengulang dan putus sekolah.
A. Fungsi-Fungsi Manajemen
            Sampai saat ini, masih belum ada konsensus di antara baik praktisi maupun para teoritisi mengenai apa yang menjadi fungsi-fungsi manajemen. Sering pula disebut unsure unsur manajemen. Secara umum, manajemen dapat dibagi menjadi 10 bagian, yaitu:
1. Forecasting
Forecasting atau prevoyance (Prancis) adalah kegiatan meramalkan, memproyeksikan atau mengadakan taksiran terhadap berbagai kemungkinan yang akan terjadi sebelum suatu rencana yang lebih pasti dapat dilakukan.
Misalnya, suatu akademi meramalkan jumlah mahasiswa yang akan melamar belajar di akademi tersebut. Ramalan tersebut menggunakan indikator-indikator, seperti jumlah lulusan SLTA dan lain sebagainya.
2. Planning termasuk Budgeting
Planning sendiri berarti merencanakan atau perencanaan, terdiri dari 5, yaitu :
a. Menetapkan tentang apa yang harus dikerjakan, kapan dan bagaimana melakukannya.
b. Membatasi sasaran dan menetapkan pelaksanaan-pelaksanaan kerja untuk mencapai efektivitas maksimum melalui proses penentuan target.
c. Mengumpulkan dan menganalisa informasi
d. Mengembangkan alternatif-alternatif
e. Mempersiapkan dan mengkomunikasikan rencana-rencana dan keputusan-keputusan.[1]
Bisa juga dirumuskan secara sederhana, misalnya perencanaan adalah penentuan serangkaian tindakan untuk mencapai sesuatu hasil yang diinginkan. Pembahasan yang agak kompleks merumuskan perencanaan sebagai penetapan apa yang harus dicapai. Selain itu juga dalam fungsi perencanaan sudah termasuk di dalamnya penetapan budget.
Lebih tepatnya lagi bila planning dirumuskan sebagai penetapan tujuan, policy, prosedur, budget, dan program dari sesuatu organisasi.
3. Organizing
Dengan ini dimaksudkan pengelompokan kegiatan yang diperlukan yakni penetapan susunan organisasi serta tugas dan fungsi-fungsi dari setiap unit yang ada dalam organisasi. Dapat pula dirumuskan sebagai keseluruhan aktivitas manajemen dalam mengelompokkan orang-orang serta penetapan tugas, fungsi, wewenang, serta tanggung jawab masing-masing dengan tujuan terciptanya aktivitas-aktivitas yang berdaya guna dan berhasil guna dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Pengorganisasian terdiri dari :
a. Menyediakan fasilitas-fasilitas perlengkapan, dan tenaga kerja yang diperlukan untuk penyusunan rangka kerja yang efisien.
b. Mengelompokkan komponen kerja ke dalam struktur organisasi secara teratur.
c. Membentuk struktur wewenang dan mekanisme koordinasi.
d. Merumuskan dan menentukan metode serta prosedur.
e. Memilih, mengadakan latihan dan pendidikan tenaga kerja dan mencari sumber-sumber lain yang diperlukan.
4. Staffing atau Assembling Resources
Istilah staffing diberikan Luther Gulick, Harold Koontz dan Cyril O’Donnell[2]. Sedangkan assembling resources dikemukakan William Herbert Newman.[3] Kedua istilah itu cenderung mengandung arti yang sama; pen-staf-an dan staffing merupakan salah satu fungsi manajemen berupa penyusunan personalia pada suatu organisasi dan pengembangannya sampai dengan usaha agar petugas memberi daya guna maksimal kepada organisasi.
5. Directing atau Commanding
Merupakan fungsi manajemen yang berhubungan dengan usaha memberi bimbingan, saran, perintah-perintah atau instruksi-instruksi kepada bawahan dalam pelaksanaan tugas masing-masing bawahan tersebut, agar tugas dapat dilaksanakan dengan baik dan benar-benar tertuju kepada tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.
Directing atau commanding merupakan fungsi manajemen yang dapat berfungsi bukan hanya agar pegawai melaksanakan atau tidak melaksanakan suatu kegiatan, tetapi dapat pula berfungsi mengkoordinasi kegiatan berbagai unsur organisasi agar dapat efektif tertuju kepada realisasi tujuan yang telah ditetapkan.
6. Leading
Istilah leading yang merupakan salah satu fungsi manajemen, dikemukakan oleh Louis A. Allen[4] yang dirumuskan sebagai pekerjaan yang dilakukan oleh seorang manajer yang menyebabkan orang-orang lain bertindak. Pekerjaan leading, meliputi 5 macam kegiatan, yaitu :
a. Mengambil keputusan
b. Mengadakan komunikasi agar ada bahasa yang sama antara manajer dan bawahan
c. Memberi semangat inspirasi dan dorongan kepada bawahan supaya mereka bertindak
d. Memilih orang-orang yang menjadi anggota kelompoknya
e. Memperbaiki pengetahuan dan sikap-sikap bawahan agar mereka trampil dalam usaha mencapai tujuan yang telah ditetapkan.[5]
7. Coordinating
Salah satu fungsi manajemen untuk melakukan berbagai kegiatan agar tidak terjadi kekacauan, percekcokan, kekosongan kegiatan, dengan jalan menghubung-hubungkan, menyatupadukan dan menyelaraskan pekerjaan-pekerjaan bawahan sehingga terdapat kerjasama yang terarah dalam usaha mencapai tujuan bersama atau tujuan organisasi. Usaha yang dapat dilakukan untuk mencapai maksud, antara lain :
a. Dengan memberi instruksi
b. Dengan memberi perintah
c. Mengadakan pertemuan-pertemuan dalam mana diberi penjelasan-penjelasan
d. Memberi bimbingan atau nasihat
e. Mengadakan coaching
f. Bila perlu memberi teguran.[6]
8. Motivating
Motivating atau pendorongan kegiatan merupakan salah satu fungsi manajemen berupa pemberian inspirasi, semangat dan dorongan kepada bawahan, agar bawahan melakukan kegiatan secara suka rela sesuai apa yang dikehendaki oleh atasan tersebut.
9. Controlling
Controlling atau pengawasan, sering disebut pengendalian, adalah salah satu fungsi manajemen yang berupa mengadakan penilaian dan sekaligus bila perlu mengadakan koreksi sehingga apa yang sedang dilakukan bawahan dapat diarahkan ke jalan yang benar dengan maksud tercapai tujuan yang sudah digariskan.
10. Reporting
Reporting atau pelaporan adalah salah satu fungsi manajemen berupa penyampaian perkembangan atau hasil kegiatan atau pemberian keterangan mengenai segala hal yang bertalian dengan tugas dan fungsi-fungsi kepada pejabat yang lebih tinggi baik secara lisan maupun secara tulisan.
Sedangkan fungsi pokok manajemen pendidikan dibagi 4 macam:
1. Perencanaan
Perencanaan program pendidikan sedikitnya memiliki dua fungsi utama, yaitu :
a. Perencanaan merupakan upaya sistematis yang menggambarkan penyusunan rangkaian tindakan yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan organisasi atau lembaga dengan mempertimbangkan sumber-sumber yang tersedia atau sumber-sumber yang dapat disediakan.
b. Perencanaan merupakan kegiatan untuk mengerahkan atau menggunakan sumber-sumber yang terbatas secara efisien, dan efektif untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
2. Pelaksanaan
Pelaksana merupakan kegiatan untuk merealisasikan rencana menjadi tindakan nyata dalam rangka mencapai tujuan secara efektif dan efisien, dan akan memiliki nilai jika dilaksanakan dengan efektif dan efisien.
3. Pengawasan
Pengawasan dapat diartikan sebagai upaya untuk mengamati secara sistematis dan berkesinambungan; merekam; memberi penjelasan, petunjuk, pembinaan dan meluruskan berbagai hal yang kurang tepat; serta memperbaiki kesalahan, dan merupakan kunci keberhasilan dalam keseluruhan proses manajemen.
4. Pembinaan
Pembinaan merupakan rangkaian upaya pengendalian secara profesional semua unsur organisasi agar berfungsi sebagaimana mestinya sehingga rencana untuk mencapai tujuan dapat terlaksana secara efektif dan efisien.[7]
Ada beberapa pendapat tentang fungsi-fungsi manajemen yang dikemukakan oleh beberapa penulis, yaitu :
1. Louis A. Allen : Leading, planning, organizing, controlling
2. Prajudi Atmosukirjo : planning, organizing, directing atau actuating, controlling.
3. John Robert Beishline : perencanaan, organisasi, komando kontrol
4. Henry Fayol : planning, organizing, coordinating, commanding, controlling.
5. Luther Gullich : planning, organizing, staffing, directing, coordinating, reporting, budgeting.
6. George R. Terry : planning, organizing, actuating, controlling.[8]
B. Prinsip-prinsip Manajemen Pendidikan
            Henry Fayol mengemukakan prinsip-prinsip manajemen yang dibagi menjadi 14 bagian, yaitu :
1. Division of work
Merupakan sifat alamiah, yang terlihat pada setiap masyarakat. Bila masyarakat berkembang maka bertambah pula organisasi-organisasi baru menggantikan organisasi-organisasi lama. Tujuan daripada pembagian kerja adalah menghasilkan pekerjaan yang lebih banyak dan lebih baik dengan usaha yang sama.
2. Authority and Responsibility
Authority (wewenang) adalah hak memberi instruksi-instruksi dan kekuasaan meminta kepatuhan.
Responsibility atau tanggung jawab adalah tugas dan fungsi-fungsi yang harus dilakukan oleh seseorang pejabat dan agar dapat dilaksanakan, authority (wewenang) harus diberikan kepadanya.
3. Discipline
Hakekat daripada kepatuhan adalah disiplin yakni melakukan apa yang sudah disetujui bersama antara pemimpin dengan para pekerja, baik persetujuan tertulis, lisan ataupun berupa peraturan-peraturan atau kebiasaan-kebiasaan.
4. Unity of command
Untuk setiap tindakan, seorang pegawai harus menerima instruksi-instruksi dari seorang atasan saja. Bila hal ini dilanggar, wewenang (authority) berarti dikurangi, disiplin terancam, keteraturan terganggu dan stabilitas mengalami cobaan, seseorang tidak akan melaksanakan instruksi yang sifatnya dualistis.
5. Unity of direction
Prinsip ini dapat dijabarkan sebagai : “one head and one plan for a group of activities having the same objective”, yang merupakan persyaratan penting untuk kesatuan tindakan, koordinasi dan kekuatan dan memfokuskan usaha.
6. Subordination of individual interest to general interest
Dalam sebuah perusahaan kepentingan seorang pegawai tidak boleh di atas kepentingan perusahaan, bahwa kepentingan rumah tangga harus lebih dahulu daripada kepentingan anggota-anggotanya dan bahwa kepentingan negara harus didahulukan dari kepentingan warga negara dan kepentingan kelompok masyarakat.
7. Remuneration of Personnel
Gaji daripada pegawai adalah harga daripada layanan yang diberikan dan harus adil. Tingkat gaji dipengaruhi oleh biaya hidup, permintaan dan penawaran tenaga kerja.
Di samping itu agar pemimpin memperhatikan kesejahteraan pegawai baik dalam pekerjaan maupun luar pekerjaan.
8. Centralization
Masalah sentralisasi atau disentralisasi adalah masalah pembagian kekuasaan, pada suatu organisasi kecil sentralisasi dapat diterapkan, akan tetapi pada organisasi besar harus diterapkan disentralisasi.
9. Scalar chain
Scalar chain (rantai skalar) adalah rantai daripada atasan bermula dari authority terakhir hingga pada tingkat terendah.
10. Order
Untuk ketertiban manusia ada formula yang harus dipegang yaitu, suatu tempat untuk setiap orang dan setiap orang pada tempatnya masing-masing.
11. Equity
Untuk merangsang pegawai melaksanakan tugasnya dengan kesungguhan dan kesetiaan, mereka harus diperlakukan dengan ramah dan keadilan. Kombinasi dan keramahtamahan dan keadilan menghasilkan equity.
12. Stability Of Tonure Of Personnel
Seorang pegawai membutuhkan waktu agar biasa pada suatu pekerjaan baru dan agar berhasil dalam mengerjakannya dengan baik.
13. Initiative
Memikirkan sebuah rencana dan meyakinkan keberhasilannya merupakan pengalaman yang memuaskan bagi seseorang. Kesanggupan bagi berfikir ini dan kemampuan melaksanakan adalah apa yang disebut inisiatif.
14. Ecsprit de Corps
“Persatuan adalah kekuatan”. Para pemimpin perusahaan harus berbuat banyak untuk merealisir pembahasan itu.
C. Hubungan Masing-masing Fungsi
Hubungan antara fungsi-fungsi manajemen antara yang satu dengan lain adalah saling kait mengaitkan. Dengan kata lain saling mempengaruhi satu sama lain. Seperti, organizing dan staffing, merupakan 2 fungsi manajemen yang erat hubungannya yaitu berupa penyusunan wadah legal untuk menampung berbagai kegiatan yang harus dilaksanakan pada suatu organisasi, dan staffing berhubungan dengan penetapan orang-orang yang akan memangku masing-masing jabatan yang ada dalam organisasi tersebut.[9]
Meskipun demikian, fungsi perencanaan merupakan landasan fungsi manajemen yang lain dan mempunyai hubungan yang sangat erat dengan fungsi pengawasan. Fungsi pengawasan tidak dapat dilaksanakan tanpa adanya perencanaan, begitu pula sebaliknya.
KESIMPULAN
Fungsi manajemen bukan hanya terdiri dari fungsi pokok dan umum, tetapi ada beberapa penulis yang berpendapat tentang fungsi manajemen yang pada intinya adalah sama. Selain prinsip manajemen yang dikemukakan oleh Henry Fayol dibagi menjadi 14. Dan hubungan masing-masing fungsi sebenarnya saling kait mengait dan tidak pernah berdiri sendiri, dengan kata lain saling mempengaruhi.
DAFTAR PUSTAKA
E. Mulyasa, MBS: Konsep, Strategi, dan Implementasi, Bandung: Rosdakarya, 2005.
Harold Koontz & Cyrill O’Donnell, Principles of Manajemen to Analysis Manajerial Function, Tokyo: Kogakusha Company, Ltd., Asian Student.
Iwa Sukiswa, Dasar-Dasar Umum Manajemen Pendidikan, Bandung: Tarsito, 1986.
Louis A. Allen, Karya Manajemen, terj. J.M.A Tuhuteru, Jakarta: PT. Pembangunan.
M. Manulang, Dasar-Dasar Manajemen, Jakarta: Ghalia Indonesia, 1963.
William Herbert Newman, Administrative Action, New York: Prentice Hall Inc. Englewood Cliffs, 1957.


Sumber Artikel By : Makalah Ibnu 
 

[1] Iwa Sukiswa, Dasar-Dasar Umum Manajemen Pendidikan, Bandung: Tarsito, 1986, hlm. 16-17.
[2] Harold Koontz & Cyrill O’Donnell, Principles of Manajemen to Analysis Manajerial Function, Tokyo: Kogakusha Company, Ltd., Asian Student.
[3] William Herbert Newman, Administrative Action, New York: Prentice Hall Inc. Englewood Cliffs, 1957.
[4] Louis A. Allen, Karya Manajemen, terj. J.M.A Tuhuteru, Jakarta: PT. Pembangunan, hlm. 68-69.
[5] M. Manulang, Dasar-Dasar Manajemen, Jakarta: Ghalia Indonesia, 1963, hlm. 23.
[6] Ibid.
[7] E. Mulyasa, MBS: Konsep, Strategi, dan Implementasi, Bandung: Rosdakarya, 2005, hlm. 20-21.
[8] M. Manulang, op.cit., hlm. 19.
[9] Ibid., hlm. 22.
Blog, Updated at: 09.21